BAB
I
PENDAHULUAN
Manusia dimanapun dan kapanpun
menyelenggarakan usaha pendidikan. Tidak hanya itu, manusia terutama para
ahlinya juga memikirkan berbagai hal yang menyangkut usaha pendidikan itu
sehingga terungkaplah pemikiran-pemikiran tentang fakor-faktor yang mendasari
perkembangan manusia (individu) dalam kaitannya dengan usaha pendidikan serta
dasar-dasar penyelenggaraan pendidikan yang lebih praktis dan metodologis.
Aliran-aliran
pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok
manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan
pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan
aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai
dari zaman Yunani kuno sampai kini
Di Indonesia, penyelenggaraan dan
pemikiran tentang pola pendidikan tertentu telah dilaksanakan sejak sebelum
kemerdekaan, karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara
pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Adapun Aliran-aliran pendidikan itu
terdiri dari aliran Konvensional dan Aliran baru yang kini sedang berkembang.
Di Indonesia, penyelenggaraan dan pemikiran
tentang pola pendidikan tertentu telah dilaksanakan sejak sebelum kemerdekaan. Penyelenggaraan
dan pemikiran tentang pendidikan ini
banyak yang secara langsung menerima pengaruh dari pemikiran-pemikiran tersebut
diatas, khususnya pemikiran yang “baru dan “maju” dari luar negeri. Setelah
kemerdekaan, bangsa Indonesia terus menerus mengusahakan sistem pendidikan atas
dasar Pancasila.
BAB
II
Teori
Aliran-aliran Pendidikan
Pemikiran-pemikiran
tentang pendidikan yang telah dimulai zaman Yunani kuno, berkembang pesat di
Eropa dan Amerika. Aliran-aliran klasik maupun gerakan-gerakan baru dalam
pendidikan pada umumnya berasal dari dua kawasan ini. Pemikiran-pemikiran itu
tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan berbagai cara seperti
dibawa oleh bangsa penjajah ke daerah jajahanya melalui bacaan buku dan di bawa
oleh orang yang pergi belajar ke Eropa atau Amerika dan sebagainya. Penyebaran
itu menyebabkan pemikiran-pemikiran dari kedua kawasan ini pada umumnya menjadi
acuan dalam penerapan kebijakan di bidang pendidikan di berbagai negara.
Pada
setiap aliran pendidikan memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang
perkembangan manusia. Hal ini berdasarkan atas faktor-faktor dominan yang
dijadikan sebagai dasar pijakan bagi perkembangan manusia. Untuk memberikan
gambaran yang lebih utuh mengenai hal itu, maka dalam sejarah pendidikan dapat dijumpai
berbagai aliran yang didasarkan pada konsepsi yang berbeda-beda, yaitu:
A.
KONSEPSI DAN ALIRAN KONVENSIONAL DALAM
PENDIDIKAN
Aliran ini terdiri atas 4 pilar utama, yaitu :
1.
Aliran Empirisme
Aliran ini berdasarkan atas konsepsi
yang menyatakan bahwa perkembangan individu
bergantung pada pengalaman-pengalaman yang di peroleh individu tersebut
selama hidupnya.
Tokoh aliran ini adalah John locke (1632-1704)
seorang filsuf inggris teorinya dikenal dengan Tabulae Rasae (meja ber;apis lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang baru lahir ke
dunia seperti kertas kosong yang putih bersih. Jhon locke berpendapat anak
dilahirkan di dunia ini tanpa pembawaan melainkan tabula rasa, artinya
pengalaman yang akan dihadapinya dapat mempengaruhinya untuk membentuk tingkah
laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
2.
Aliran Nativisme
Aliran ini bertolak belakang dengan
konsepsi empirisme , yaitu perkembangan individu ditentukan faktor bawaan sejak
lahir. Tokoh aliran ini adalah Schopenhaeur seorang fiolsof Jerman yang hidup
pada tahun (1788-1880).
Yang berpendapat: Bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk, hasil
akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan oleh pembawaan yang sudah
di bawa sejak lahir. Prinsipnya , pandangan Nativisme adalah pengakuan
tentang adanya daya hasil yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia,
yaitu daya-daya psikologis dan fisiologisnya yang bersifat herediter, serta
kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap individu.
3.
Aliran Naturalisme
Aliran ini hampir bersamaan dengan
aliran Nativisme , tokoh Aliran ini adalah J.J Rousseau seorang filosof Prancis
tahun (1712-1778) Rosseau berpendapat dalam bukunya Email ”Semua anak adalah baik pada
waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi menjadi buruk ditangan manusia ”. Berbeda
dengan Schopenhaur, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir
mempunyai bawaaan yang baik, tidak seorangpun anak lahir dengan pembawaan buruk. Namun akan rusak oleh tangan manusia.
Rousseau ingin menjauhkan anak dari
segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat atau bersifat “artificial”, sehingga kebaikan
anak-anak yang dimiliki secara alamiah
sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara spontan dan bebas.
Dengan demikian , aliran Naturalisme
menitik beratkan pada strategi
pembelajaran yang bersifat paedosentris, artinya, factor kemampuan individu
anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar mengajar.
4.
Aliran Konvergensi
Tokoh aliran ini adalah William stern
(1871-1939) seorang tokoh pendidikan Jerman. Aliran yang berdasarkan konsepsi
konvergensi ingin mengawinkan dua aliran yang 180 derajat berlawanan, yaitu
aliran empirisme dan aliran nativisme. Aliran
ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan
buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan.
Jadi faktor pembawaan dan lingkungan sangat penting.
B.
KONSEPSI DAN ALIRAN “BARU” DALAM PENDIDIKAN
Aliran “konvensional” dalam pendidikan
membahas dan menetapkan faktor-faktor dasar yang mempengaruhi perkembangan
manusia (individu) dan menerapkan faktor-faktor dasar ini dalam kaitannya
dengan berapa jauh usaha pendidikan perlu dilakukan terhadap individu yang sedang
berkembang itu.
Aliran “baru” dalam pendidikan tidak
lagi mempersoalkan perlu atau tidak perlunya pendidikan bagi individu yang
perlu dikembangkan adalah bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang
benar-benar bermanfaat secara maksimal bagi individu yang sedang berkembang itu
dan bagi lingkungan atau masyarakatnya.
Disini kita akan membahas beberapa aliran “baru” dalm pendidikan
bahan-bahan dalam buku Agus Suyono (1958 dan 1980) dipakai sebagai bahan acuan
dalam tulisan ini.
1.
Pengajaran Alam Sekitar
Konsep pengajaran alam sekitar dilhami
oleh kata-kata yang dipetik dari Emmanuel Kant: “Pengertian tanpa pengamatan
adalah kosong dan pengamatan tanpa pengertian adalah buta.” Hal ini berarti
bahwa antara pengamatan dengan dan pengertian harus terjalin hubungan yang
saling menunjang dan saling memperkuat. Artinya manusia hendaknya mampu
memanfaatkan lingkungannya.
Langkah-langkah pokok pengajaran ini
ialah menetapkan tujuan, mengadakan persiapan, melakukan pengamatan, dan
mengolah apa yang diamati.
Keuntungan Pengajaran Alam Sekitar adalah
·
Menentang
verbalisme dan intelektualisme
·
Dapat membangkitkan perhatian spontan dari anak -anak
untuk melakukan kegiatan dengan sepenuh hati.
·
Anak-anak
selalu didorong untuk aktif dan kreatif
·
Bahan
yang diajarkan dapat mempunyai nilai praktis bagi anak-anak
Salah seorang tokoh pengajaran alam sekitar
ialah J. Ligthart (1859-1916) seorang ahli pendidikan bangsa Belanda.
Pengajaran alam sekitar ini dinamakan “Pengajaran barang sesungguhnya”.
2.
Pengajaran Pusat Perhatian
Pengajaran pusat perhatian didasarkan alam
sekitar yang objek-objek pengamatannya dititik-beratkan pada sesuatu pusat
tertentu, yaitu hal-hal yang menarik perhatian manusia dalam menjalani
perkembangan hidupnya.
O. Declroy (1871-1932) seorang ahli
pendidikan bangsa Belgia yang menjadi tokoh pengajaran pusat perhatiahan
mengaitkan kebutuhan anak dengan empat instink pokok yang ada pada diri anak,
yaitu instink untuk makan, untuk memiliki dan mempertahankan, untuk melindungi
diri dari bahaya dan untuk aktif.
3.
Sekolah Kerja (Pendidikan Individual dan Social)
Aliran ini memandang penting antara
seorang individu dengan masyarakat dalam menunjang proses pendidikan, dalam hal
ini pendidikan harus seimbang yaitu untuk kepentingan individu dan untuk kepentingan
masyarakat, bagi seorang individu harus di bina
agar dirinya dapat berkembang secara penuh menyumbangkan kepandaian, kecakapan
dan kemampuannya untuk kepentingan masyarakat, dan sebaliknya masyarakat harus
rela menyediakan sesuatu agar setiap warganya dapat mencapai tingkat
perkembangan yang setinggi- tingginya.
4.
Pengajaran Proyek
W.H Kalipatrik (1871) yang
menyelenggarakan suatu system pengajaran proyek prinsip dasarnya bahwa
pengajaran itu harus aktif ilmiaj dan memasyarakat. Proyek pada dasarnya adalah
tugas yang harus dipecahkan melalui suatu rencana dan penyelenggaraan kegiatan
secara baik.
Langkah-langkah Pokok Pengajaran
Proyek yaitu :
·
Persiapan
·
Kegiatan
Belajar
·
Penilaian
C.
ALIRAN
“TRADISIONAL” DAN “MAJU DALAM PENDIDIKAN
Konsepsi pendidikan ada yang cenderung
bersifat tradisioanal dan ada yang bersifat bila ia lebih menekankan peranan
pendidik dan hal-hal lain di luar anak didik. Sebaliknya suatu konsepsi
pendidikan bersifat maju apabila menempatkan anak didik pada kedudukan sentral
dalam keseluruhan upaya pendidikan.
Di Amerika Serikat berkembang pesat empat aliran filsafat yang masing-masing
memberikan penekanan yang berbeda yaitu
lebih bersifat tradisional dan maju, yaitu :
1.
Aliran Progesivisme
Tokoh aliran ini adalah John Dewey.
Aliran ini berpendapat bahwa manusia
mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi
masalah yang bersifat menekan ataupun
masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. Konsepsi
progresivisme memandang bahwa perubahan, dan bukan keadaan tetap, merupakan
inti dari kenyataan
2.
Aliran Esensialisme
Aliran Esensial bersumber dari
filsafat idealisme dan realisme. Sumbangan yang diberikan keduanya besifat
eklektic. Artinya dua aliran tersebut
Bertemu sebagai pendukung esensialisme
yang berpendapat bahwa pendidikan harus bersendikan nilai-nilai yang dapat
mendatangkan kestabilan, dapat disimpulkan aliran Esensialisme menghendaki agar
landasan pendidikan adalah nilai-nilai esensial, yaitu yang teruji oleh waktu,
bersifat menuntun, dan telah turun menurun
dari zaman ke zaman sejak zaman renaissance.
3.
Aliran Perenialisme
Aliran ini mengajak kepada kita untuk setia terhadap prinsip-prinsip yang sifatnya
abadi, bagi pengikut konsep ini keadaan yang tetap adalah lebih nyata dari pada
perubahan , dan keadaan tetap itu lebih
ideal daripada terjadinya perubahan. Tokoh
aliran ini adalah Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquino.
4.
Aliran Konstruktivisme
Gagasan pokok aliran ini diawali oleh
Giambatista Vico, seorang epistemology Italia Ia berpendapat bahwa tuhan adalah
pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaaan, hanya Tuhan yang
dapat mengetahui segala sesuatu karena Ia pencipta segala sesuatu itu. Aliran
ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak
diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang melalui
pengalaman yang diterima lewat pancaindra. Dengan demikian aliran ini
menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang
lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bias dipindahkan.
D.
TAMAN SISWA DAN INS SEBAGAI AWAL PENDIDIKAN DI
INDONESIA
Kedua pendidikan ini lahir sebelum
masa kemerdekaan yang sama-sama mengarahkan pada usaha-usaha menuju kemerdekaan
bangsa.
1.
Perguruan kebangsaaan Taman Siswa.
Didirikan oleh Kihajar Dewantara pada
tanggal 03 Juli 1922. Ki hajar Dewantara adalah tokoh politik penentang
penjajah Belanda yang mengutamakan gerakannya di bidang pendidikan nasional.
Adapun asas-asas Taman siswa adalah :
·
Menjadi
hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya
persatuan.
·
Pengajaran
harus membimbing anak menjadi manusia
yang merdeka.
·
Pendidikan
harus didasarkan atas kebudayaan bangsa sendiri tanpa mengesampingkan
kebudayaan bangsa-bangsa lain.
·
Pedidikan
harus merata untuk seluruh rakyat
Taman siswa harus hidup dan berkembang
dengan kekuatan sendiri.
Pendidik harus berhamba pada anak atas dasara
sikap tanpa pamrih
2.
INS ( Indonesische Nederland School )
INS didirikan pada tanggal 31 Oktober
1926 di Kayutaman Sumatera Barat oleh Moh. Syafei.
Adapun tujuan dari INS adalah :
·
Mendidik
rakyat kea rah kemerdekaan
·
Memberi
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
·
Mendidik
para pemuda agar berguna untuk masyarakat
·
Menanamkan
kepercayaan kepada diri sendiri dan berani bertanggung jawab
·
Berusaha
untuk dapat berdiri sendiri dan tidak bersedia menerima bantuan dari orang lain
yang mengurangkan kebebasan.
Sebagai seorang pejuang Moh. Safei
menekankan bahwa Indonesia harus memiliki watak yang merdeka, dengan memberikan
alat yang akan menyadarkannya. Dengan dasar konsepsi tersebut INS didirikan
dengan memakai system sekolah kerja yang kreatif, untuk ini sekolah menyediakan
sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya fasilitasnya pendidikan yang dapat
menampung pengembangan bakat anak sesuai dengan kodrat lahir dan batin.
Kegiatan pendidikan di INS meliputi
bidang-bidang berikut :
·
Bidang
pendidikan Keterampilan
·
Bidang
Pertanian
·
Bidang
Karya seni
·
Pendidikan
manajemen
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
:
Dalam sejarah pendidikan dapat
dijumpai berbagai aliran pendidikan yang didasarkan pada konsepsi yang
berbeda-beda. Konsepsi dan aliran ini di golongkan sebagai konvensional atau
baru serta tradisional atau maju. Di Indonesia menurut sejarahnya, ada beberapa
konsensi pendidikan yang memiliki cirri yang berbeda-beda , dan didasarkan atas
Sistem Pendidikan Nasional Pancasila.
Aliran konvensional dalam pendidikan ,
antara lain aliran Empirisme, nativisme, naturalism, konvergensi, telah sejak
lama tumbuh di Eropa. Konsepsi aliran ini lebih menekankan pada factor-faktor
yang mendasari perkembangan anak dan factor-faktor inilah yang dijadikan dasar
pertimbangan perlu atau tidak perlunya usaha pendidikan.
Aliran baru dalam pendidikan tidak
lagi lagi mempersoalkan perlu atau tidak perlunya pendidikan melainkan lebih
mengutamakan penyelenggaraaanusaha pendidikan untuk perkembangan anak
sebesar-besarnya. Di Eropa berkembang antara lain aliran pengajaran alam
sekitar, pengajaran pusat perhatian, dan sekolah kerja.
Berbagai aliran pendidikan yang
berkembang di Amerika Serikat seperti Perenialisme, progesivisme, esensialisme,
rekonstruksionalisme.
Taman Siswa dan Ins adalah penyelenggaraan
sistem pendidikan yang berdasarkan semangat
kemerdekaan kebangsaan di tanah air sejak sebelum kemerdekaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Tirtarahardja,
Umar. 2000. Pengantar Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.